Mimpi Sarekat Hijau Indonesia bisa jadi kenyataan

Oleh: Koesnadi Wirasapoetra – Biro Politik Ekonomi SHI

 

Saya senang bergabung bersama Sarekat Hijau Indonesia, sejak awal September 2006, ketika BP3OPK salah satu wujud dari komitment para aktivis walhi menetapkannya di Mataram dalam bentuk membangun sayap politik, sebagai instrument lama dengan muatan baru gerakan sosial bagian dari gerakan politik lingkungan hidup di Indonesia.
 
Sebagai bentuk institusi yang baru, membuat ketertarikan saya untuk bergabung, tanpa ragu dan sungkan serta penuh curiga yang merupakan gosip-gosip lama berkembang dalam diri kita. Sarekat Hijau, mungkin adalah cikal bakal untuk saya dapat bekerja dan mempercepat proses pendidikan politik kerakyatan yang dapat membebaskan rakyat dari belenggu penghisapan dan penindasan.

 

Perjalanan sayap politik memang tidak mudah untuk berkarya, penyelasaian dan perdebatan tradisional sampai mukhtahir sampai membedah semua buku pelajaran dari kiri kekanan sampai sosok pejuang progresif yang menjadi bahan pembicaraan di milis. Tetapi, model sayap politik ini belum juga selesai didiskusikan dengan baik dan santun. Ketika awal Agustus 2006, kekosongan di tubuh BP3OPK terjadi, saya secara spontanitas diminta untuk mengisi kekosongan tersebut. Padahal, tanpa harus ada formalitas di BP3OPK, saya tetap bekerja pada semua level basis (kampung dan regional) untuk tetap mengawal gerakan sosial – politik dari yang menganut aliran tradisional sampai mutahir. Saya berpikir, kenapa tidak untuk membantu proses percepatan sayap politik ini, saya masuk diantara bagian BP3OPK. Kerja-kerja mulai di intensifkan di banyak daerah, walau masih banyak perbedaan bacaan kolega mulai dari bacaan yang tradisional, modern sampai bacaan status Quo yang enggan masuk ruang politik praktis. Upaya terus dilakukan, walaupun, dalam tubuh induknya masih terdapat perbedaan yang tajam, atau mungkin ini ciri klasik dari demokrasi liberal yang dibungkus oleh gerakan sosial lingkungan masih tetap berbasis pada sang majikan (pemberi dana). Potret ini tentunya tidak dapat di sembunyikan, muncul ketika perdebatan secara klasik dan subtansi, toh, pasar ikut dibelakang membonceng akan isu-isu lama yang berbau neoliberal pada arena gerakan politik lingkungan.
 
Sahdan, dibulan Juli 2007, dimulailah babak baru sayap politik dibangun dengan sungguh-sungguh. Selama proses kongres Sarekat, pelajaran menarik masih kentara, perbedaan tetap ada, namun, kegenitan mulai terasa dan sungguh terlalu, buang-buang umur, buang-buang energi tapi tidak bekerja apa-apa.. Tidak ayal lagi, kongres menjadi banyak bagian blok pemikiran, satu pihak mau mengusung ke partai, satu pihak mau mengusung ke ormas-orpol satu pihak kelihatannya masih berhitung mana yang menang pikiran ini atau memilih untuk tidak menjawab apa-apa. Hari terakhir, kelihatannya sampai pagi juga, padahal saya menghitung, jam 00.00 acara sudah selasai. Saya berpikir, menarik kebelakang, sebagaimana tugas-tugas saya untuk menyiapkan kerangka kerja organisasi bersama yang lainnya. Pikiran saya sederhana, mari kita buat pondasinya dulu, sambil jalan kita bangun dinding, ruangan dan ornamen2 yang khas Sarekat Hijau. Saya berpikir, dan juga bermimpi, bila saja, Sarekat dibentuk di 21 Provinsi, dengan dasar konstituen setiap provinsi 260 orang, maka dalam waktu yang tidak lama SHI sudah memiliki sekitar hampir 5.460 orang, dimana setiap Desa minimal 20 orang. Bila semua orang anggota SHI mengumpulkan sebanyak 10.000 satu kali menjadi anggota 54,6 juta dana terkumpul. Bila 1 orang anggota iuran perbulan 1.000/orang maka SHI sudah memiliki setiap tahun dana 65,6 juta per tahun. Saya sudah memperkirakan, dalam waktu 5 tahun kedepan minimal 2012, anggota SHI mencapai lebih dari 500 ribu orang, dengan kerja-kerja yang intensif di semua lini, maka bila setiap bulan 1.000 / orang, maka SHI sudah memiliki kas dana gerakan sebanyak 500 juta rupiah. Seandainya 500 ribu orang menaruh dana abadi 10.000 per org, maka SHI memiliki dana yang cukup sebanyak 5 miliar. Ini perhitungan dari sistem "saweran" anggota SHI dalam bentuk dana. Dana 1.000/org dan 10.000/org anggap saja itu biaya setiap orang untuk dana abadi gerakan politik setara dengan 1,5 bungkus rokok sampurna mild.
 
Mimpi diatas belum ditambah dengan mimpi aset yang dimiliki oleh anggota SHI. Bisa saja, asset ini akan menjadi dana perwalian SHI dari anggota untuk anggota dan oleh anggota. Misalkan setiap anggota SHI yang hidup di pedesaan memiliki 2 hektar kebun karet atau coklat. Sebanyak 500 ribu anggota, minimal 300 ribu anggota memiliki 2 hektar kebun, total jumlah kebun mencapai 600.000 hektar. Bila angka komulatif panen setiap 2 hektar karet per bulan mencapai 4 juta rupiah, maka dana yang dihasilkan anggota SHI 4 juta x 300.000 = 12.000.000.000.000.000.- ada sekitar 12 trilyun, dana yang bisa dihasilkan anggota SHI, bila dana ini disumbangkan untuk gerakan SHI sebesar 10%, maka SHI akan memiliki dana yang tidak sedikit. Kemudian, bila 500 ribu anggota, akan mengkonsolidasikan dirinya melakukan proses fasilitasi kasus-kasus dan potensi sumber-sumber agraria di wilayah pedesaan dan pedalaman, hitungan kekuatan akan lain lagi. Contoh kasus, apakah SHI mau memimpin sebuah gerakan Reckaliming di Indonesia? Bila jawabannya ya!!! maka, targetnya bisa saja setiap provinsi SHI mampu memfasilitasi sebanyak 20 Desa untuk reckaliming dengan rata-rata jumlah tanah sebanyak 1.000 hektar setiap desa, maka 1 provinsi akan mencapai 20.000 hektar, dan bila SHI mampu melakukan di 20 provinsi, maka sudah dapat di pastikan tanah-tanah dapat di racklaiming mencapai 400.000 hektar. Jumlah ini memang kecil, bila angkanya berani dinaikan, maka bisa jadi mencapai jutaan hektar— bila tanah ini dikelola baik menghasilkan 4 juta per hektar, sudah bisa dipastikan dalam jangka 5 tahun, SHI bersama anggotanya akan mengelola dana sebesar 18 trilyun, lalu untuk apa dana ini?
 
SHI, tetapi berpegang pada metode pendidikan rakyat, setiap anggota SHI akan melakukan proses pendidikan kepada rakyat minimal 5 – 10 orang secara intensif. Bila anggota SHI mencapai 500ribu orang, maka akan ada rakyat terdidik sebanyak 500.000 x 5 orang atau angka damainya 500.000 x 8 orang bisa mencapai 4 juta orang rakyat telah mendapat pendidikan secara intensif dan dapat dimentoring oleh anggota SHI. Secara politik, mimpi kekuatan SHI baik dari segi kuantitas dan kualitas sudah bisa dihitung. tetapi secara politik ekonomi yang berhubungan dengan anggaran gerakan, SHI harus menghitung ulang dimana angka-0angka diatas masih bersifat komunal milik anggota dan bersifat pribadi milik anggota, lalu SHI harus memiliki bangunan politik anggaran untuk lembaga dan pengurusnya. Mimpinya, setiap sekretariat SHI di daerah dari tingkat DPW, DPD sampai Desa, sekretariat kerja (kantor) SHI minimal memiliki sumberd pendanaan dari hasil kelola sumberdaya alam sebanyak 10 – 20 hektar kebun. Hasil ini untuk membiayai operasional kantor, fasilitasi kasus-kasus, pendidikan rakyat dan respon politik lokal – global. bila di target 5 – 10 tahun kedepat, setiap kantor SHI memiliki kebun 15 hektar, minimal kantor SHI sudah mandiri bergerak. Lalu, bagaimana dengan pengurusnya? pengurus juga menjadi tanggunggugat SHI untuk dijamin keberadaannya, jangan sampai pengurus "menyetorkan ideologinya" pada pihak-pihak yang selama ini menjadi target agenda politik SHI. Setiap pengurus akan diberikan wali kelola kebun sebesar 2 hektar (karet, coklat, cengkeh dlsb). Kebun ini akan dikelola oleh unit otonom SHI, dan wali kebun mendapat 50 – 60% dari hasil bersih, 40 – 50% akan dimiliki oleh unit usaha otonom. Dimana unit ini sebagai mesin pendukung gerakan politik SHI…..Unit Usaha SHI akan menjamin kesejahteraan pengurus dan juga anggotanya. Minimal dari dana yang dikelola, ada dana jaminan kesehatan, pendidikan dan pensiun bagi pengurus SHI ke depan.
 
Mimpi merupakan hal yang indah, tetapi, mimpi tidak bisa dibeli dan dijalankan dengan perbedaan dan kegenitan tafsir pada ruang politik. Mimpi harus dijalankan bersama, toh, pasti akan ada perbedaan hasilnya. Bukan mendiskusikan perbedaan metodenya, tetapi pasti akan ada perbedaan hasilnya. Saya tidak bisa membandingkan mimpi SHI dengan cara kerja kemandirian gerakan aktivis di NGO, yang melakukan fundraising menjual madu laku sebulan 10 botol untuk setiap botol 5.000 – 10.000 rupiah, maka sebulan terkumpul hanya 50.000 – 100.000 rupiah, sedangkan bayar telepon udah 1 juta, bayar air listrik dan email sudah lebih 500.000.- lalu mau mandiri dimananya. Ini bagian dari kontra produktif dari sebuah kemandirian lembaga. Menjual kaos laku 100 lembar 1 bulan untungnya 5.000 rupiah, jadi total untung 500.000 rupiah, belum ada yang utang gak bayar-bayar. Tagihan telpon, air listrik, email, beli voucer dlsb….mana mungkin tertutupi dengan untung ini, yang pasti untungnya kampanye isu saja, kalau untuk mandiri …tidak mungkin dan terlalu banget yang mengajarinya tuh…..Jadi, pusaran ketergantungan NGO pada lembaga donor tetap dipelihara sampai saat ini. Mudah-mudahan, SHI 5 – 10 tahun kedepan tidak akan terjadi.
 
Saya akan senang untuk menemani poros baru SHI yang akan memberikan pelajaran pada sebuah ekonomi politik baru di Indonesia. Bahwa SHI adalah bagian dari cikal bakal saya memperbaiki proses politik, memang ya!!! tetapi, mimpi ini tetap akan saya bawa untuk terwujud bisa pada arena SHI bisa juga para arena pedesaan yang riil…..
 
Anda masih ragu dengan SHI…silahkan cari jalan lain…..anda yakin dengan SHI, mari kita bangun bersama.

 

Leave a Response

Spam protection by WP Captcha-Free