Dari Tien-Mou, Merajut Persatuan Regional
Oleh: Khalisah Khalid
Bertempat di Tien-Mou Center Taipei, the greens se-Asia Pasifik perwakilan dari partai hijau dan gerakan hijau dari berbagai negara dengan segala keberagaman yang dimilikinya berkumpul selama 3 (tiga) hari. Berbagai isu strategis dan agenda dibicarakan dalam pertemuan yang bertajuk “Fair Share For A Green Future”, dan mengundang keynote speaker yang sudah tidak asing lagi menghabiskan sebagian besar hidupnya bagi agenda penyelamatan lingkungan Vandana Shiva dan Perdana Menteri Tuvalu, digawangi oleh Senator Australia Bob Brown yang menghantarkan kita pada diskusi yang seru terkait dengan langkah-langkah mengatasi perubahan iklim.

Sarekat Hijau Indonesia menilai bahwa perubahan iklim merupakan persoalan dunia yang teramat serius dan tidak bisa dilepaskan dari system ekonomi dan politik global, dan kami menyadari bahwa ketimpangan yang dialami oleh bangsa ini, juga bangsa-bangsa lain yang mengalami nasib seperti Indonesia, merupakan potret global dimana telah terjadi ketimpangan dalam kesejahteraan dan penguasaan asset antara segelintir orang dengan mayoritas rakyat yang hidup di bumi yang satu ini.
Kondisi ini terjadi akibat penghisapan terhadap kekayaan alam dan modal social di negara-negara dunia ketiga atau negara miskin seperti Indonesia, serta terhadap kelompok yang lebih rentan pada umumnya. Disisi lain, gaya hidup, pola konsumsi dan tingkat kesejahteraan segilintir orang ini bertanggungjawab atas kerusakan lingkungan hidup di negara-negara yang menjadi sumber penghisapan karena eksploitasi yang membabi buta dan menyebabkan munculnya ancaman lingkungan hidup yang berdimensi global antara lain perubahan iklim.
Sehingga menjadi sangat relevan jika dalam kongres yang berlangsung selama tiga hari ini, menghasilkan satu resolusi yang mengadopsi hasil dari pertemuan rakyat untuk perubahan iklim yang dideklarasikan di Bolivia yang dikenal dengan Universal Declaration of the Rights of Mother Earth. Prinsip dan keyakinan yang juga diyakini oleh banyak masyarakat adat di bumi Indonesia seperti Dayak Muluy, namun sayangnya pengurus negara tidak mengakuinya.
Dari Tien-Mou center, resolusi lain juga dilahirkan termasuk penolakan terhadap pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir yang sedang dipromosikan di berbagai negara antara lain Jepang, Philipina, dan Indonesia.
Bagi Sarekat Hijau Indonesia, pertemuan ini merupakan keempat kalinya kita diberi kesempatan untuk membangun dan memperluas jaringan di ranah internasional. Dimulai pada tahun 2007 dimana SHI berkenalan dan bertemu dengan Global Greens di Bali, yang berikutnya membuka jalan bagi SHI untuk mengenal persatuan hijau di tingkat global, regional dan bilateral. Setelah pertemuan di Bali, SHI diundang menghadiri konferensi Global Greens di Sao Paulo, konferensi Green Party Victoria dan kongres Asia Pacific Greens Network di Taipei baru-baru ini.
Sarekat Hijau Indonesia menilai bahwa selain memperkuat gerakan politik hijau di basis-basis, di pelosok kampung, di keriuhan kota, juga penting untuk menyerukan dan membangun solidaritas internasional untuk mewujudkan cita-cita SHI yakni menuju demokrasi kerakyatan, keadilan sosial, kedaulatan dan kemandirian ekonomi, serta keberlanjutan lingkungan hidup. Menjadi penting, karena musuh yang kita hadapi bekerja secara massif dan ancaman yang dihadapi berdimensi global.

Hal lain yang ditemui dari tempat ini, bagaimana kita dapat melihat kemiripan persoalan yang dihadapi oleh Philipina dan Indonesia, baik dalam pengalaman ekstraksi sumber daya alam secara besar-besaran, maupun pengalaman membangun demokratisasi di masing-masing negara, termasuk bagaimana jatuh bangun melahirkan dan mengepakkan sayap gerakan politik hijau melalui Green Party, ditengah skeptisnya rakyat terhadap kerja-kerja partai politik dan pandangan politik yang dinilai kotor. Paling tidak inilah pelajaran yang bisa dipetik dari salah satu sessi berbagi dalam pertemuan APGN 2010 ini, yang berjudul “From Grass Root to Government” – A Study of Recent Green Party Building in the Philipines and Asia.
Dari Tien-Moe yang bercuaca jauh lebih dingin dari Jakarta, kami mengabarkan bahwa Sarekat Hijau Indonesia kini telah disetujui dan diterima sebagai Friends of the APGN bersama dengan Papua Nugini, Hongkong, dan China. Satu tahapan untuk terus merajut solidaritas dan persatuan regional gerakan politik hijau dan keadilan sosial.


