45 Miliar, Pedagang Asongan Menyumbang Krisis Ekonomi
Koran…koran..koran gelar tdur…koran, nasi bebek…nasi pecel….kopi..kopi…energen..kopi, minum dingin, minum dingin, nasi goring nasi goring, ramesnya ramesnya.
Itulah salah satu terikan terdengar di sebuah transportasi umum kereta malam jurusan Surabaya – Jakarta. Mereka kebanyak kaum perempuan yang menjajakan jasanya kepada para penumpang, mulai dari makanan nasi pecel, nasi goreng, nasi rames, Koran untuk sekedar alas duduk di bawah sampai menawarkan minuman hangat kopi, teh sampai energen tersedia secara instan mereka layani.
Harga nasi goren dan rames Rp 3.000/bungkus, Nasi pecel + telur Rp 5.000/paket, kopi susu, kopi hitam Rp 2.000 – Rp 2,500/gelas, the anget 1.000/gelas, dan kalau mau baca Koran bekas lalu setelah itu Koran bisa untuk di gelar di lantai kereta sebagai alas tidur Koran di hargai 500 – 1.000/ bundel. Harga-harga makanan dan minuman yang mereka tawarkan jauh lebh murah daripada nasi goring di restoran Kereta api sepiring Rp 10.000, kopi 5.000. dan tidak kalah rasanya dengan restoran. Saya mencoba kopi susu dan beli kacang rebus dengan uang rp 4.000 dapat kopi segelas dan kacang rebus 2 bungkus, terasa nikmat minum kopi sambil makan kacang rebus di atas kereta bersama peumpang lainya yang juga senasib tidak mendapat tempat duduk.
Untuk yang pertama kalinya saya, sejak terakhir tahun 1996, baru di tahun 2010 saya mencoba untuk naik kereta api kelas ekonomi Jakarta – Surabaya. Dengan kereta kertajaya ekspres, mulai bergerak pukul 15.30 dari stasiun Pasar Turi. Kebetulan saya tidak mendapat tempat duduk, alias berdiri bersama penumpang lainnya sebanyak 10 orang di gerbong Kereta 4. Dengan keterbatasan yang ada, kapasitas penumpang 106 orang, gerbong bisa di isi lebih dari 120 penumpang, dengan kata lain sisanya tidak dapat tempat duduk. Artinya yang tidak dapat duduk bisa mencapai 14 orang atau lebih, termasuk saya dengan penumpang lainnya. Udaya yang sedikit panas di sore hari, semakin memberikan rejeki yang banyak kepada pedagang kipas bamboo seharga 2.000/kipas, begitu juga kepada pedagang Koran yang banyak di minati untuk di gelar sebagai alas duduk. Tidak lama kemudian petugas kereta menawarkan sejenis bantal seharga Rp 4.000/sampai Jakarta sebagai harga sewa. Memang semua serba memberikan rejeki bagi semua petugas dan pedagang.
Lalu lalang mereka di atas kereta api tidak pernah berhenti, dan hampir setiap stasiun kereta ada bergiliran para pedagang untuk menjajakan dagangannya di atas kereta. Mereka mambangun system sendiri, misalnya, pedagang Surabaya hanya sampai di wilayah Lamongan, dan begitu seterusnya, setiap pedagang telah mengkoordinir wilayah atau batas berdagang yang di perobolehkan. Pembagian waktu ini tidak tertulis tetapi di patuhi bersama antar pedagang. Para pedagang perempuan ini ada yang berseragam khusus menggunakan kaos atau rompi yang menunjukan kalau mereka terorganisir dalam serikat pedagang asongan stasiun Surabaya, atau semarang. Setidaknya menurut keterangan petugas PJKA setempat, ada sekitar lebh dari 500 pedagang asongan yang terorgainisir di Stasiun Paras Turi dan Gubeng, dan bila di jumlah semua stasiun sepanjang Surabaya – Jakarta bisa mencapai lebih dari 10.000 pedagang asongan baik perempuan dan laki-laki. Tetapi umumnya pedagang kebanyakan perempuan.
Omset mereka rata-rata setiap pedagang tidaklah besar dari 100.000 – 200.000 per hari sekali berdagang, dengan keuntungan rata-rata 20 % – 30 %. Artinya bila kita hitung, rata-rata pedagang mengantongi hasil sebanyak 150.000 di kalikan 10.000 pedagang, sudah bisa di bayangkan hampir Rp 1,5 milliar per hari yang di hasil perputaran uang dari para pedagang asoangan antara Jakarta – Surabaya. Jumlah hasil perdagangan ini merupakan bagian dari pedapatan rakyat yang memberikan sumbangan kepada Negara dengan cara mendistribusikannya melalui nilai perdagangan dan penjualan di sepanjang Jakarta – Surabaya.
Bila mencapai 30 hari maka sudah bisa di pastikan sebesar 45 miliar per bulan dana beredar di tingkat pedagang asongan dari proses jual beli. Tidak sedikit yang menikmati hasil distribusi ekonomi ini, mulai dari took-toko kecil sampai distributor minuman instan yang di perdagangkan. Tidak mustahil beberapa rompi pedagang asongan yang Nampak di buatkan oleh sponsor minuman misalnya, krating daeng, pop mie dan lain sebagainya.ini bentuk nyata bahwa pedagang asongan merupakan asset dari pabrik-pabrik mereka yang memproduksi untuk di jual eceran di sepanjang Jakarta – Surabaya.
BBM dan Listrik tak mampu biayai sekolah
Seorang pedagang asongan sebut saja Aminah (32) yang menjajakan dagangannya nasi pecel, mengeluhkan soal kebijakan pemerintah mencabut subsisdi BBM dan menaikan harga listrik. Aminah dengan 2 orang anak, yang memilik suami bekerja serabutan, harus membantu ekonomi keluarganya agar bisa bertahan hidup. Bagi aminah, subsidi pemerintah untuk BBM, Listrik adalah kewajiban Negara agar barang-barang bisa mudah di beli dan bila di jual dengan harga yang tidak mahal dan memiliki keuntungan bagi AMinah dan teman-temannya.
Mengusahakan biaya sekolah kedua orang anaknya Aminah yang duduk di bangku Sekolah Dasar adalah sangat berat, apalagi kemdian hari anak sulung Aminah masuk SMP, yang memberatkan Aminah adalah biaya pembelian buku, pakean dan seragam lainnya. Dengan pendapatan setiap hari 20.000 s/d 30.000 per hari, untuk menghidupi keluarga Aminah terasa berat, dengan semua harga-harga membumbung tinggi dan untuk makanan begizi tidak terbeli, akhirnya AMinah dan keluarga mengencangkan ikat pinggang harus berhemat, ini dibuktikan dengan makan seadanya lauk pauk tempe dan tahu merupakan menu aminah dan keluarga setiap hari. Tetapi, aminah dan kawan-kawannya sepanjang Surabaya – Jakarta telah menyumbangkan pendapatan tidak langsung kepada pemerintah sebesar 45 milliar rupiah setiap bulannya, berarti sumbangan pedagang asongan terhadapa krisis ekonmi Negara cukup besar, tetapi mereka tidak pernah di pandang sebagai penghasil ekonomi, malah, kebijakan pemerintah memberikan subsidi kepada perusahaan-perusahaan besar seperti Bakrie, Sinas Mas dan lain sebagainya.
Aminah dan 10.000 pedagang asongan lainnya merupakan gambaran rakyat kecil yang memberikan sumbangan kepada system ekonomi Bangsa ini. Walaupun nasibnya selalu menjadi bagian dari proses perdagangan kemiskinan Negara untuk mendapatkan bantuan utang luar negeri yang semakin lama semakin membengkak, dengan dan mengatasnamakan rakyat.
Tetapi semua hasil-hasil pajak tidak mampu memberikan sarana dan prasarana social bagi rakyat miskin, dimana, orang miskin di larang sekolah, orang miskin di larang sakit, karena biaya sekolah dan rumah sakit mahal, sekolah dan rumah sakit ini juga telah di privatisasi pemerintah dengan atas nama Negara. Pukul 05.30, kereta telah tiba di stasiun Jatinegara, semua penumpang yang memiliki tujuan Jatinegara bergeas turun, badan rasanya remuk dan bercampur ketidakpuasan akan system yang di bangun pemerintah atas keadilan dan kesejahteraan bagi rakyat.
Pedagang asongan yang menyumbang 45 milliar setiap bulan, tidak pernah di pandang sebelah mata oleh pemerintah, dan akhirnya uang Negara lebih banyak mensubsidi orang kaya, sebagai contoh kepada Group Bakrie dengan kasu lapindo dan ngemplang pajak di sector batu bara. (KWS Jatinegara, 13 Juni 2010)


