Gerakan Hijau dalam Lingkaran Aliansi Progressif
Oleh: April Perlindungan
Bukan pekerjaan mudah, membangun jembatan menuju “kepentingan kolektif” di ranah politik gerakan dengan isu yang beragam. Selain jembatan itu harus di yakini dulu kuat atau tidaknya untuk menyeberangkan berbagai kepentingan menuju “kepentingan kolektif” tadi, juga mesti diyakinkan, apakah Pulau Kolektif itu kapasitasnya sudah sesuai untuk menampung kepentingan-kepentingan tersebut.
Diakui, Gerakan “Hijau”( Lingkungan Hidup ) selama ini aktif membangun jembatan menuju kepentingan kolektif. Bahkan, Hijau adalah pulau kolektif itu sendiri. Yakni, menjadi alternatif dalam rangka membangun kekuatan kolektif dari berbagai isu sektoral lainnya. Terutama di ranah ekonomi, sosial dan budaya. Sebagian besar kelompok progresif pun menyepakati, Hijau adalah jembatan sekaligus gerakan alternatif yang mampu menghimpun kekuatan progresif tersebut.
Hal itu di perkuat (Tidak bermaksud menyombongkan diri), Hijau kini menjadi salah satu gerakan terdepan dalam membela kepentingan petani, nelayan, buruh dan masyarakat marjinal lainnya. Meskipun dalam parkteknya, perlu transformasi yang panjang agar hijau mampu di jalankan di ranah ekonomi, sosial dan budaya.
Menjadi jembatan dari berbagai isu sektoral di satu sisi merupakan keberhasilan gerakan hijau dalam upaya menghimpun kekuatan progresif. Sisi lainnya, tugas-tugas yang di jalankan pun tentunya akan menguras energi dan waktu. Karena, bukan hal yang mudah gerakan hijau meleburkan diri dengan gerakan sektoral lainnya. Perlu pengetahuan baru, kreatifitas dan strategi lain agar tranformasi isu dapat di cerna dengan cepat oleh masa rakyat.
Di sadari, gerakan hijau sampai hari ini masih menjadi gerakan strategis. Namun, perlu di perbincangkan secara terus-menerus mengenai formulasi yang tepat, Agar Hijau menjadi gerakan sosial yang benar-benar mengakar, lahir dari inisiatif rakyat bukan lagi gerakan yang wacananya hanya di miliki oleh kelas menengah ke atas. Hijau harus mampu menjawab secara praktis masalah-masalah ekonomi rakyat, hijau juga sudah saatnya bertarung untuk menjawab kebuntuan-kebuntuan politik rakyat.
Mencapai semua itu memang tidak sebentar. Perlu belajar dan terus belajar. Juga di butuhkan komitmen, aksi, tindakan kolektif. Gerakan hijau tidak akan menghasilkan apa-apa jika tidak mendapat dukungan konkrit dari rakyat. Dukungan konkrit dari rakyat setidaknya dapat di ukur dari kesadaran rakyat itu sendiri. Yaitu membangun organisasi rakyat yang terpimpin sejaligus berdaulat secara ekonomi dan politik. Bila hari ini belum ada formulasi yang tepat, atau ada sedikit kelemahan dalam menentukan strategi untuk mencapai semua itu. Masih ada hari esok untuk memperbaiki dan masih ada hari ini untuk meng-evaluasi diri. Gerakan hijau kini telah mampu menggalang kekuatan aliansi progresif, namun perlu waktu untuk terus membumi.
Bukan pekerjaan mudah, membangun jembatan menuju “kepentingan kolektif” di ranah politik gerakan dengan isu yang beragam. Selain jembatan itu harus di yakini dulu kuat atau tidaknya untuk menyeberangkan berbagai kepentingan menuju “kepentingan kolektif” tadi, juga mesti diyakinkan, apakah Pulau Kolektif itu kapasitasnya sudah sesuai untuk menampung kepentingan-kepentingan tersebut.
* Penulis: Pengurus KP SHI Jabar