Nasionalisme Dua Dunia

Dikirim oleh Alien pada Selasa, 06/24/2008 - 00:58.

Sosok Nyai Ontosoroh tiba-tiba begitu dekat, ketika untuk kali kedua aku bisa mendaratkan kaki dimana Bumiputra pernah diinjak-injak di negeri ini sekian ratus tahun lamanya, dan Analies anak Nyai yang cantik namun rapuh itu direnggut dari keluarganya, hanya karena ibunya seorang Nyai. Disini, aku melihat bagaimana negeri Netherland ini bisa hidup dari landasan bangunannya hasil menjarah kekayaan sumber daya alam negeri lain, dari keringat orang-orang di sepajang jalan Anyer sampai Panarukan untuk membangun jalan raya pos yang menjadi fundamen utama atas arus industrialisasi di pulau Jawa dan Indonesia, dan bagaimana menyaksikan berahi mereka memuncak ketika rempah-rempah kita terus digerus, dijual dan uangnya dipakai untuk membangun dam supaya negeri mereka tidak tenggelam.

"Yakinlah Nyai, aku masih seorang bumi putera yang tak akan lekang dimakan sponsor-sponsor perjalanan. Aku masih seorang bumi putera yang ingin melawan dengan sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya, seperti katamu. Aku hanya ingin melihat bumi kita dari luar sana, seperti mereka yang selalu meneropong negeri kita layaknya miniatur rumah kaca. Aku pasti akan kembali ke bumi manusia, dimana aku ingin menjadi manusia yang bebas dengan semua nilai-nilai kemanusiaanku. Tidak terkungkung oleh imperialisme atau bahkan kungkungan feodalisme, aku juga tidak mau seperti kamu Nyai dimana nilai-nilai dirimu sebagai manusia telah dirampas".  Begitu bisikku dalam hati.

Di bumi Ratu Wilhelmina inilah pertama kali aku mendengarkan nasionalisme di dunia yang berbeda, meskipun aku percaya bahwa Tuhan hanya menciptakan satu dunia yang sama untuk manusia. Biasanya, makna nasionalisme terdengar di negeri dimana aku dilahirkan, tumbuh dan berkembang dalam sebuah ketidakjelasan memaknai kemerdekaan. Ditempat inilah, dibelahan dunia ketiga, ketika Negara miskin dan berkembang seperti Indonesia memproklamirkan kemerdekannya di tahun 1945, namun tetap tidak bisa lepas dari sistem kolonialisme utama yakni kolonialisme ekonomi.

Bagaimana mau dikatakan merdeka, jika Indonesia harus membayar utang pemerintah Belanda atau yang lebih afdol merupakan utang VOC pada waktu itu untuk membangun negeri Belanda yang begitu indah yang hari ini aku nikmati juga, dan utangyang jumlahnya baru bisa dilunasi oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1998. Kemegahan bangunan pemerintahan negeri Belanda, yang kurang lebih luasnya sama dengan satu provinsi Jawa Barat ini, menjadi sebuah jejak rekam sejarah bahwa peradaban kerap kali dibangun dengan landasan nilai yang tidak beradab. Dominasi, eksploitasi, dan pelanggaran terhadap nilai-nilai asasi manusia selalu mewarnai sebuah cerita sejarah kolonialisme negara utara atas negara selatan.  Paling tidak, itulah yang tergambar dari bangunan pemerintahan Belanda yang berada di Den Hag, kota pusat pemerintahan negeri Belanda berjalan, layaknya jalan Medan Merdeka yang menjadi wilayah pusat pemerintahan Indonesia.

Saat ini, nasionalisme diperbincangkan di belahan dunia pertama yang dibangun atas hasil dari kekayaan sumber daya alam dunia ketiga yang tiga abad lebih lamanya dijajah, lagi-lagi untuk kepentingan membangun imperium kolonialnya. Secara tegas Cecil Rhodes (1852-1902) menyebutkan, bahwa kolonialisme adalah penemuan tanah baru dimana dari tanah tersebut dapat dengan mudah mendapatkan bahan-bahan mentah (sumber daya alam) yang dapat dieksploitasi dengan menggunakan buruh murah dari penduduk pribumi. Sumber daya alam (SDA),  sesungguhnya selalu menjadi alasan utama bagi kolonial dimanapun untuk mendominasi dan menanamkan kekuasannya. Dari sini saja jelas digambarkan, bahwa penguasaan Negara (kolonialisasi) terkait erat dengan sumber daya alam sebuah Negara. Jika bukan karena kekayaan alamnya, mana mau negeri lain selama berabad-abad lamanya menanamkan kekuasaan dan kekuatannya di satu Negara.

Ketika kita bicara tentang nasionalisme di negeri orang, di belahan dunia yang lain, dimana hampir setengah dari perjalanan peta kita lalui untuk kembali mendaratkan diri kita di bumi Indonesia sebagai bumi yang menjadi tempat lahir dan tempat kita menutup mata, ada berbagai krisis panjang yang setiap harinya harus dilalui oleh anak-anak negeri ini. Dinegeri kita pengungsi Lapindo harus kehilangan ruang hidupnya, tidak lagi mendapatkan hak atas pangannya sebagai pengungsi sejak bulan Mei yang lalu, tidak lagi bisa berteduh didalam rumah, tempat dimana anak-anak bersekolah dan tempat ini telah berubah menjadi kubangan lumpur dan rakyat dipaksa menjadi pengungsi yang bukan saja kehilangan ruang hidupnya, tetapi juga bahkan kehilangan nilai-nilai kemanusiannya. Harga BBM yang naik dan terus berlomba-lomba kenaikan harga bahan pokok lainnya, kekerasan yang tidak pernah berhenti dipraktekkan oleh Negara, hanya karena sebuah keyakinan yang berbeda, yang bahkan Tuhan sendiri tidak pernah memberikan hukuman ketika ummatnya berbuat salah. 

Nyai Ontosoroh, mungkin bagiku dialah simbol nasionalisme. Simbol perlawanan seorang Nyai, seorang perempuan, seorang ibu, seorang Bumiputera. Meskipun dalam sejarah, dia hanya menjadi legenda.  Nasionalisme, entah dimana adanya kata-kata itu, didalam hati, didalam ucap, didalam tindak atau didalam sebuah tulisan-tulisan tak bermakna. Tapi Subcommandante Marcos pernah berkata, kata adalah senjata. Kata akan berarti jika dia dilekatkan pada semangat melawan imperealisme, melawan neo liberalisme, melawan neo kolonialisme, melawan feodalisme, melawan hati yang kadang kala minta dimengerti untuk hanya sekedar bangun pagi dan kemudian menanyakan dengan penuh patrotik, inikah nasionalisme?.

Posted in Dikirim oleh Alien pada Selasa, 06/24/2008 - 00:58.